Senin, 16 Februari 2015

Orang Terkaya No 2 di Indonesia, hanya Lulusan SD

Eka Tjipta Widjaja, pada tahun 1932,bersama ibunya hijrah dari China ke Indonesia, tepatnya Makassar, ketika usia beliau 9 tahun. Setiba di Makassar, Eka kecil segera membantu ayahnya berjualan di toko yang dimiliki ayah beliau. Tujuannya jelas, segera mendapatkan 150 dollar, guna dibayarkan kepada rentenir. Dua tahun kemudian hutang pun terbayar, toko ayahnya maju, dan Eka pun bersekolah.

Karena masalah ekonomi, Eka kecil tak mampu melanjutkan sekolahnya, dan hanya mendapatkan ijazah SD. Eka kecil pun mulai berjualan, berlandaskan pengalamannya dalam berjualan, beliau memulai usahanya dari berjualan biskuit, kembang gula, barang bekas sisa peledakan pelabuhan semen, pemborong rumah, bisnis minyak kelapa, grosir makanan, kopra, dll. Tetapi itu semua tidak semudah, dan semulus kenyataannya, penuh lika liku dan tantangan, serta banyak masalah yang beliau hadapi.

Sampai akhirnya pada usia senja beliau mendirikan PT Tjiwi Kimia yang bergerak di bidang bahan kimia, yang kemudian berkembang menjadi pabrik kertas, mendirikan PT Smart perkebunan kelapa sawit. Pada usia 59 tahun, memiliki BII, saat ini Sinarmas Group mengoperasikan Bank Sinarmas. dan pada usia 61 tahun, beliau membeli perusahaan kertas PT Indah Kiat Pulp&Paper di Tangerang, setelah 10 tahun beliau membeli perusahaan tersebut produksi Indah Kiat yang semula 50.000 ton per tahun menjadi 700.000 ton per tahun.

Perjalanan

Pada usia 15 tahun, beliau mencoba berjualan kembang gula dan biskuit. Beliau memulai usahanya dengan tanpa modal, beliau mengambil barang dagangan terlebih dahulu, dan membayarnya bila barang dagangan tersebut laku. Akan tetapi pada awalnya beliau ditolak oleh pemilik toko grosir. Dalam keadaan seperti ini, beliau tidak patah arang, di dalam pikiran beliau, hanya ada satu keinginan untuk survive demi merubah nasib keluarganya. Akhirnya dengan bermodal ijazah SD beliau sebagai jaminan, beliau dapat dipercaya oleh orang/pemilik toko grosir untuk menjualkan barang dagangannya.

Memang beliau itu ulet dan pekerja keras, beliau dengan semangat berjualan dengan sepedanya menjual barang dagangannya ke toko-toko di wilayah Makassar. Tidak heran, hanya dalam 2 bulan, beliau sudah mengail laba Rp 20, (harga beras masih 3-4 sen per kilogram), dan sudah dapat untuk membeli becak untuk mengangkut barang-barang dagangannya tersebut.

Namun usaha tersebut hancur total, karena ulah Jepang yang menyerbu Indonesia, termasuk Makassar, tak ada barang lagi yang bisa dijual. Total keuntungan Rp 2000 yang beliau kumpulkan susah payah selama bertahun-tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Dalam keterpurukan, beliau tidak mudah menyerah, dan tidak mudah putus asa. beliau terus berusaha keras agar tujuannya untuk memperbaiki kehidupannya bisa terwujud nyata. Eka pun mengayuh sepedanya mengelilingi Makassar, sambil berpikir untuk mencari ide bisnis baru. Sampailah beliau di Paotere, di situlah beliau melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tetapi bukan tentara Jepang dan Belanda yang menarik Eka, melainkan bongkahan semen, besi-besi bekas dan barang lain-lainnya. Otak bisnis Eka segera berputar.

Eka pun bergegas pulang dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Beliau merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu. Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah di Paotere. Beliau membawa serta kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok dan sebagainya. Semula alat itu beliau pinjam dari ibunya. Enam ekor ayam ayahnya ikut beliau pinjam. Ayam itu dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam. Beliau juga pinjam satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol anggur dari teman-temannya.

Jam tujuh pagi beliau sudah siap jualan.

Benar saja, pukul tujuh, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos pasukan Jepang. Eka mentraktir si Jepang makan minum di tenda. Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk whisky gratis, si Jepang bilang joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan minum di tenda Eka. Tentu saja beliau meminta izin untuk mengangkat semua barang yang sudah dibuang.

Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 – 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Beliau pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan dirawat sampai dapat dipakai lagi. Beliau pun belajar bagaimana menjahit karung.

Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang beliau peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Beliau mulai menjual terigu. Semula terigu, hanya Rp. 50 per karung, lalu beliau menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, beliau mulai menjual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40.

Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut beliau, ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Beliau membayar tukang, Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Beliau mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, beliau berhenti sebagai kontraktor kuburan.

Setelah itu, beliau berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Beliau tidak mengeluh karena transportasi yang sulit saat itu.

Eka pun mereguk laba besar, tetapi mendadak beliau nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar.

Beliau pun mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, beliau rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kimpoi untuk menutup utang dagang.

Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal beliau habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi.

Pada masa Orde Baru, usaha beliau berkembang, PT Tjiwi Kimia yang beliau dirikan dapat memproduksi 10.000 ton kertas, tahun 1980-1981 beliau membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10 ribu hektar di Riau, mesin serta pabrik berkapasitas 60 ribu ton. Perkebunan dan pabrik teh seluas 1.000 hektar berkapasitas 20 ribu ton dibelinya pula.

Tahun 1982, beliau membeli Bank Internasional Indonesia(BII), hingga sekarang BII memiliki 40 cabang dan cabang pembantu, dengan aset Rp 9,2 triliyun. PT. Indah Kiat juga beliau beli. Tidak hanya di bisnis kertas, perbankan dan minyak. Eka juga merambah bisnis real estate. Beliau bangun ITC Mangga Dua, ruko, apartemen lengkap dengan pusat perdagangan. Di Roxy beliau membangun apartemen Green View, di Kuningan ada Ambassador.


“Saya Sungguh menyadari, saya bisa seperti sekarang karena Tuhan Maha Baik. Saya sangat percaya Tuhan, dan selalu ingin menjadi hamba Nya yang baik” katanya mengomentari semua suksesnya kini. “Kecuali itu, hematlah,” tambahnya.

Beliau menyarankan, kalau hendak menjadi pengusaha besar, belajarlah mengendalikan uang. Jangan laba hanya Rp. 100, belanjanya Rp. 90. Dan kalau untung Cuma Rp. 200, jangan coba-coba belanja Rp. 210,” Waahhh, itu cilaka betul,” katanya.

Kisah perjuangan Eka Tjipta Widjaja dalam meraih kesuksesan berbisnis, membuka mata kita, bahwa ijazah, tidak menentukan seberapa besar berhasilnya kita dalam meraih kesuksesan. Semangat pantang menyerah, tidak takut gagal, tekad yang kuat, merupakan hal yang penting dalam menghadapi rintangan menuju kesuksesan. Di samping itu, jangan mengeluh dengan keadaan, dan banyak-banyaklah bersyukur.